
Ringkus Enam Penumpang WNA, Bea Cukai Ngurah Rai Temukan Narkotika Dalam Dinding Koper Hingga Bungkusan Makanan Hewan
BADUNG,Harnasnews.com ― Jelang akhir tahun, Bea Cukai Ngurah Rai berhasil gagalkan enam upaya penyelundupan barang sediaan Narkotika melalui barang bawaan penumpang dari luar negeri tujuan Bali.
Penegahan dilakukan secara berturut-turut dari bulan November hingga Desember 2019 terhadap enam WNA yang kedapatan sembunyikan zat-zat terlarang tersebut setibanya di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Jenis sediaan Narkotika yang diselundupkan dengan modus concealment oleh keenamnya terdiri atas sediaan Ganja, Kokain, dan Methamphetamine.
Penegahan pertama dilakukan pada 4 November 2019, terhadap seorang penumpang Hongkong Airlines dengan nomor penerbangan HX 709 rute Hongkong-Denpasar yang tiba pukul 01.15 WITA. Seorang pria, yang diketahui WN asal Switzerland berinisial RH (45), dicurigai saat akan melewati area pemeriksaan Bea Cukai sehingga diatensi untuk diperiksa barang bawaannya melalui mesin X-Ray dan dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam pemeriksaannya, RH kedapatan menyimpan 1 (satu) tabung bening terbungkus selendang merah yang berisikan potongan daun berwarna hijau di dalam koper hardcase hitam bertuliskan ATA yang diduga merupakan sediaan Ganja dengan berat 1,65 gram netto. RH yang merupakan seorang perancang juga kedapatan menyimpan 1 (satu) bungkusan kuning bertuliskan Fleur Du Pays yang berisikan potongan-potongan daun berwarna cokelat yang disembunyikan dalam tas ransel cokelat miliknya yang bertuliskan Supersac Sport yang juga diduga sebagai sediaan Ganja dengan berat 28.39 gram netto.
Penegahan kedua dilakukan pada 6 November 2019 terhadap seorang penumpang Air Asia dengan nomor penerbangan FD 396 rute Don Mueang, Bangkok tujuan Denpasar yang tiba pada 12.46 WITA. Petugas mendapati penumpang pria berinisial PK (36) yang dicurigai saat akan melewati area pemeriksaan Bea Cukai sehingga dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut.
PK yang merupakan WN asal Thailand diperiksa petugas setelah diarahkan untuk melewati pemeriksaan mesin X-Ray. Petugas memeriksa lebih lanjut barang bawaan PK dan mendapati adanya kertas linting bertuliskan RAW yang disimpan di antara pakaiannya.
Atas temuan tersebut, petugas melakukan pemeriksaan badan di ruang pemeriksaan. Atas pemeriksaan tersebut, PK, yang merupakan seorang sales manager, kedapatan memiliki 1 (satu) kemasan plastik bening berisi potongan daun berwarna hijau yang disembunyikan di dalam celana dalam yang sedang dikenakannya.
Potongan-potongan daun hijau tersebut diduga sediaan Narkotika jenis Ganja dengan berat 20,26 gram brutto atau setara dengan 17,76 gram netto.
Penegahan ketiga dilakukan terhadap penumpang wanita berinisial RTEY yang datang menggunakan penerbangan maskapai Scoot dengan nomor penerbangan TR 288 dengan rute penerbangan Singapura-Denpasar yang tiba pukul 19.00 WITA pada 14 November 2019. RTEY datang ke area pemeriksaan Bea Cukai dikawal oleh petugas Imigrasi.
Petugas Imigrasi melaporkan bahwa RTEY kedapatan memiliki benda mencurigakan pada passpornya saat diperiksa di area Imigrasi. Atas laporan tersebut, petugas Bea Cukai Ngurah Rai menindak lanjuti temuan tersebut dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap RTEY.
RTEY, yang diketahuhi bekerja di bidang finance, kedapatan memiliki 1 (satu) plastik klip bermotif waru yang berisikan serbuk putih dengan berat 0,7 gram brutto atau setara dengan 0,35 gram netto yang tersimpan pada passpornya. Temuan serbuk putih tersebut kemudian diuji di Laboratorium Bea Cukai Ngurah Rai dan terbukti merupakan positif sediaan Narkotika jenis Kokain.
Penegahan keempat dilakukan terhadap penumpang pria berinisial PMVV yang datang dengan maskapai penerbangan Thai Airways nomor TG 431 rute Bangkok-Denpasar yang tiba pada 27 November 2019 pukul 15.00 WITA.
Petugas mencurigai seorang penumpang WNA yang akan melewati area pemeriksaan Bea Cukai sehingga diarahkan untuk melewati pemeriksaan mesin X-Ray. Penumpang pria berinisial PMVV (57) tersebut diperiksa lebih lanjut barang bawaannya oleh petugas.
Dalam barang bawaannya, PMVV yang merupakan seorang pebisnis asal Chile kedapatan memiliki 1 (satu) botol kaca berisi cairan bening yang disembunyikan di dalam kaus kaki yang tersimpan pada tas jinjing warna hitamnya. Cairan bening tersebut diduga mengandung sediaan Narkotika jenis Methamphetamine dengan total berat 77,26 gram brutto.
Penegahan kelima dilakukan terhadap WN asal Hong Kong berinisial PKH (43) yang menyelundupkan sediaan Narkotika dalam dinding koper. PKH diketahui datang dengan maskapai penerbangan Thai Lion Air dengan nomor penerbangan SL258 rute Bangkok, Don Mueang – Denpasar pada 4 Desember 2019 sekitar pukul 20.30 WITA.
Sama dengan penegahan sebelumnya, PKH diatensi untuk diperiksa lebih lanjut ke pemeriksaan X-Ray. Petugas mencurigai hasil pencitraan koper milik pria yang diketahui berprofesi sebagai karyawan swasta tersebut sehingga dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut.
Saat dilakukan pembongkaran, petugas menemukan 13 paket berisikan butiran kristal putih dengan berat total 3.230 gram brutto yang diduga sediaan Narkotika jenis Methampetamine yang disembunyikan dalam dinding-dinding koper hitam tanpa merek yang telah dimodifikasi.
Penegahan terakhir dilakukan terhadap pria berinisial MCK (19) yang merupakan penumpang Malindo Air OD177 yang tiba pada pukul 22.30 WITA tanggal 12 Desember 2019 dengan rute Kuala Lumpur – Denpasar yang juga dicurigai saat akan melewati area pemeriksaan Bea dan Cukai.
MCK yang merupakan remaja asal Hong Kong ini dicurigai dan diarahkan untuk pemeriksaan X-Ray oleh petugas saat melewati area pemeriksaan Bea dan Cukai.
Hasil dari pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa MCK yang diketahui berprofesi sebagai freelance tersebut memiliki 4 (empat) kemasan plastik makanan hewan bermerek HEALTH yang berlogo anjing yang berisikan butiran kristal putih dengan berat masing-masing 1.030 gram brutto dengan total berat 4.120 gram brutto atau setara dengan 4000 gram netto.
Bungkusan-bungkusan tersebut disimpan dengan rapi dalam bungkusan kertas kado yang dihiasi dengan pita merah di dalam koper ungunya yang bertuliskan Dunlop. Butiran kristal putih tersebut diduga merupakan sediaan Narkotika berjenis Methampetamine.
Keenam tersangka diduga melanggar Pasal 102 huruf (e) j.o. Pasal 103 huruf (c) Undang-Undang nomor 17 tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan j.o. Pasal 113 ayat (2) Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. RH, PK, PMVV, PKH, dan MCK terancam dituntut hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 10.000.000.000,- ditambah 1/3.
Sementara RTEY terancam tuntutan hukum pidana penjara paling sedikit 5 (lima) tahun dan paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 1.000.000.000,- dan paling banyak Rp 10.000.000.000,-. Saat ini para tersangka dan barang-barang bukti telah diserahterimakan ke POLDA Bali sedangkan tersangka PKH diserahterimakan ke Polresta Denpasar.
Dengan keberhasilan atas penindakan ini, Bea Cukai Ngurah Rai mengapresiasi kerja sama dan sinergi yang baik dari para stakeholder Bandara I Gusti Ngurah Rai, khususnya pihak imigrasi, yang dengan tanggap berkoordinasi dalam melakukan pengawasan terhadap masuknya zat-zat terlarang yang dapat mengancam dan merugikan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Bali.
Koordinasi yang baik ini diharapkan dapat terus dijaga dan dipupuk demi mewujudkan pengawasan yang kuat kedepannya.
Penindakan ini menambah daftar panjang penegahan atas selundupan sediaan Narkotika Bali yang dilakukan oleh Bea Cukai Ngurah Rai sepanjang tahun 2019 dengan total jumlah 1.179 penindakan sepanjang tahun 2019.
Diantaranya didominasi dengan penegahan atas upaya penyelundupan NPP ke wilayah Republik Indonesia, khususnya Bali, diikuti dengan penegahan atas masuknya BKC illegal dan penindakan terhadap barang yang belum memenuhi ketentuan larangan dan pembatasan.
Penindakan tersebut dilakukan terhadap barang kiriman internasional menggunakan Perusahaan Jasa Titipan dan Pos serta masuk dan/ atau keluarnya barang melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang berada di bawah pengawasan Bea Cukai Ngurah Rai.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Bali, NTB, dan NTT memaparakan bahwa kinerja atas pengawasan dan pelayanan sepanjang tahun 2019, khususnya di wilayah provinsi Bali, yang dilakukan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Ngurah Rai dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Denpasar telah berhasil melakukan penindakan sejumlah 2.172 kalo dengan nilai kerugian negara yang berhasil diselamatkan sejumlah RP 1,4 Milyar. Penindakan dilakukan atas upaya penyelundupan NPP (Narkotika, Psikotropika dan Prekursor), Barang Kena Cukai (BKC) ilegal, dan barang-barang lainnya yang melanggar ketentuan larangan dan pembatasan.
Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB, dan NTT berhasil melakukan penindakan atas upaya peredaran BKC ilegal sebanyak 12 kasus. Diantaranya adalah penindakan terhadap Hasil Tembakau (HT) sebanyak 7 (tujuh) kasus dengan total jumlah barang bukti sebanyak 63.880 batang dan estimasi kerugian negara sebesar Rp 22.600.000 dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang belum atau tidak memenuhi ketentuan Cukai sebanyak 5 kasus dengan total jumlah barang bukti sebanyak ± 4.000 liter dan berpotensi meruhikan Negara sebesar Rp 419. 300. 000,- berhasil ditegah.
Bea Cukai Denpasar berhasil melakukan penindakan sebanyak 547 kasus. Penindakan pertama dilakukan atas adanya pelanggaran di bidang cukai dengan jumlah penindakan sebanyak 161 kasus. 110 kasus diantaranya merupakan penindakan Hasil Tembakau Ilegal sebanyak 110 kasus dengan total barang bukti sebanyak 963.691 batang bernilai Rp963.691.000.
Dari keseluruhan penindakan Hasil Tembakau ini, estimasi kerugian negara tercatat sebesar Rp 356.565.670. Modus yang dilakukan adalah menjual rokok tanpa dilekati pita cukai. Telah dilakukan 3 kali penyidikan pada tahun 2019 dan telah dinyatakan lengkap (P-21) untuk diajukan ke pengadilan.
Penindakan kedua atas adanya pelanggaran di bidang cukai yaitu terhadap upaya peredaran MMEA ilegal dengan jumlah tegahan sebanyak 30 kasus dengan barang bukti sebanyak 30.104 botol atau 22.576 liter dengan nilai Rp 698.840.250.
Potensi kerugian negara atas upaya peredaran MMEA illegal ini adalah sebesar Rp 345.081.490,-. Modus pelanggaran yang dilakukan adalah menjual MMEA yang dilekati pita cukai yang tidak sesuai dengan ketentuan, dan menjual MMEA tanpa dilengkapi dengan izin / tidak memiliki NPPBKC.
Penindakan ketiga atas adanya pelanggaran di bidang cukai adalah penindakan atas Liquid Vape (HPTL) dengan jumlah penindakan sebanyak 21 kasus dengan jumlah barang bukti sebanyak 4.095 botol atau 245,57 liter dengan nilai Rp 274.501.740,-. Potensi kerugian negara atas adanya pelanggaran ini adalah sebesar Rp 156.465.992,-. Modus pelanggaran yang dilakukan adalah dengan menjual liquid vape tanpa dilekati pita cukai secara online.
Sedangkan di bidang kepabeanan, Bea Cukai Denpasar juga melakukan pengawasan terhadap perdagangan E-Commerce. Atas pengawasan tersebut, Bea Cukai Denpasar berhasil menindak upaya masuknya barang impor yang belum memenuhi ketentuan larangan dan pembatasan sejumlah 588 penindakan.
Adapun jenis barang yang berhasil dilakukan penindakan meliputi: pakaian, kosmetik, alat kesehatan, smartwatch, dan perangkat elektronik (hp, tablet, laptop) dengan total jumlah barang 7.820 set dengan nilai RP 8.207.491.410,-. Penerimaan negara yang berhasil dicapai dari kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh Bea Cukai Denpasar adalah sebesar Rp 19.125.794.000,- yang terdiri dari Bea Masuk dan PDRI. Modus pelanggaran yang dilakukan adalah dengan melakukan splitting pengiriman, memberitahukan jenis barang yang tidak sesuaim underinvoicing, dan tidak melengkapi perizinan Lartas.
Komisi XI DPR RI yang hadir dalam press conference ini menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bea Cukai Bali dan Instansi penegak hukum terkait atas upaya dan sinerginya yang luar biasa dalam melakukan penindakan atas pelanggaran Kepabeanan dan Cukai, dan untuk itu Komisi XI DPR RI akan selalu memberikan dukungan penuh. Penegakan hukum atas pelanggaran ini, penting dilakukan dalam upaya mengamankan penerimaan negara dari sektor Kepabeanan dan Cukai serta sekaligus memberikan iklim yang kondusif bagi perekonomian negara dengan melindungi industri dalam negeri dari gangguan barang-barang impor ilegal. Pengungkapan kasus narkoba oleh Kementerian Keuangan c.q. Ditjen Bea Cukai (khususnya Bea Cukai wilayah Bali) yang turut menjaga masa depan anak bangsa, dan memastikan SDM Indonesia adalah SDM yang unggul dan produktif.
Penindakan barang kena cukai dan barang impor ilegal, sebagai bentuk pengamanan penerimaan negara dari sektor Cukai dan sebagai kontribusi DJBC dalam mengamankan perekonomian. Kepada semua pihak terkait agar menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Kementerian Keuangan c.q. Bea Cukai. Selanjutnya Komisi XI DPR RI menutup pernyataannya dengan memberikan pesan agar sinergi antar instansi penegak hukum terus ditingkatkan.(VIDI)